![]() |
| Image : Generated by Gemini AI |
Jika bumi dan langit diciptakan oleh Tuhan, siapa yang menciptakan Tuhan itu sendiri?
Apakah Tuhan merasa kesepian, makanya menciptakan manusia?
"Tuhan itu ada dimana? Kok dia gak kelihatan. Kok dia bisa beridiri sendiri tidak ada yang menciptakan?," Itulah pikiran-pikiran saya, dikala saya masih sangat kecil.
"Mama saya menjawab: itu rahasia Allah, rahasia Tuhan".
Saat dibacakan buku cerita tentang Nabi Isa, yang teringat di benak saya saat itu.
Tuhan menaruh Isa ke rahim seorang perawan bernama Mariam tanpa perkawinan. Jadi Nabi Isa tidak memiliki seorang bapak.
Dan dibuku cerita bergambar tersebut, Nabi Isa diceritakan dapat berbicara saat masih bayi dihadapan orang-orang untuk mengungkapkan kebenaran dan membela ibunya yang melahirkan tanpa suami.
"Sontak saja dengan spontan saya bilang ke mama saya: Loh berarti Nabi Isa itu anak Tuhan dong ma?", Entah mengapa ada analogi, anak TK (4-5 tahun) menganggap demikian.
Saat beranjak di sekolah dasar, ada pertanyaan di dalam hati dan pikiran saya lagi mengenai misteri ilahi di dunia ini.
| Ilustrasi by Gemini AI |
Mengapa manusia (saya) diciptakan? Hari ini, saat ini, jika saya tidak diciptakan saya ada dimana?
Rasanya ada-ada saja pikiran anak kecil (sekitar kelas 1-2 SD) yang tiba-tiba bengong sendirian. Ia suka memikirkan pertanyaan-pertanyaan absurd. Yang saat ini, mungkin sulit juga dijawab juga oleh orang dewasa.
Saat berada di kelas 2 SD, saya ingat mengalami sebuah dejavu. Di otak saya seperti ada lompatan memory, seperti benar-benar pernah mengalami kejadian ini.
Rasanya senang, bahagia tapi bingung ini tuh apa? Sebab kejadiannya, cuma sepersekian detik.
Mengalami kejadian seperti dejavu, sebenarnya pernah saya alami beberapa kali saat saya masih kecil.
Waktu balita (sebelum TK), yang saya ingat seperti ada lompatan memory saat saya masih tinggal di Bekasi.Saat itu, saya sedang dipangku dan tertawa bahagia. Saat ditanya mengapa kok ketawa? Saya tidak tahu lalu tertawa lebih geli lagi.
Dejavu saat TK 0 Kecil. Saat berada di rumah nenek saya di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Saat itu, saya melihat wajah nenek berwarna agak kekuningan.
Sontak anak usia 4 tahun yang melihat neneknya seperti itu, bilang gini :
"ih Nek, Nenek mukanya kayak orang udah mau mati", dan saya yang masih kecil langsung lari sambil tertawa setelah bilang kayak gitu.
Nenek saya pun hanya tersenyum, sambil mau menagkap tangan saya tapi tidak dapat.
Aneh sih kalau dipikir-pikir, padahal saat itu saya belum pernah melihat orang yang mau meninggal seperti apa? Apalagi mengerti tanda-tandanya.
Selang beberapa lama kemudian, nenek saya sakit dan harus di rawat di RS Pertamina Pusat, Jakarta. Saya ingat, saat kami mengantarnya malam-malam. Suster melarang saya untuk masuk dan Ayah saya memberikan petunjuk tanda dilarang masuk untuk Ruang ICU / Gawat Darurat dan kami pun pulang.
Beberapa hari kemudian, pulang dari RS nenek saya sudah sekarat. Tapi belum benar-benar meninggal.
Detik-detik terakhir saat ia akan menutup mata, saya ingat betul matanya melirik ke arah saya dengan warna yang lebih kuning. Seolah memberikan sebuah pesan.
Setelah itu, mamah, dan keluarga saya menangisi kepergian nenek saya. Namun, saat itu saya yang masih kecil belum mengerti akan kehilangan seseorang karena kematian. Sehingga saya tidak menangisi kepergiannya.
Hingga sekarang, saya merasa seseorang yang meninggal, hanya melepas jiwa dan ruhnya dari jasad yang ia miliki.
Orang yang meninggal tidak benar-benar mati atau hancur. Mereka seperti pindah melanjutkan sebuah perjalanan hidup selanjutnya.
Entahlah, mungkin saya akan tahu jawabannya nanti. Setelah saya mengalami kematian itu sendiri.


0 Komentar:
Posting Komentar