Itulah yang saya terapkan untuk menulis hingga hari ini. Nyawa dari sebuah tulisan menurut saya adalah rasa, kejujuran dan pengalaman yang bercampur menjadi satu.
Saat menulis, kita juga menggunakan seluruh energi dan perasaan kita kedalam buah pikiran kita. Tanpa sadar, dengan menulis kita membentuk harmonisasi dalam diri dan alam semesta.
Saat menulis, kita hampir mempergunakan seluruh pancaindra kita. Mulai dari: mata, telinga, hidung, lidah, kulit bahkan kita juga menggunakan telinga untuk mendengar, mulut untuk membaca tulisan dan kita mengasah rasa yang ada di dalam diri.
Saat kita menulis, kita diajak me-recall memori yang ada di otak kita. Kemudian menyusunnya secara tersturktur, bahkan terperinci kedalam sebuah tulisan.
Ketika kita membagikan tulisan atau ide kita ke dunia maya. Itu ibarat kita memancarkan energi ke alam semesta dan alam semesta bekerja.
Dengan hati dan niat yang tulus kita dalam menulis. Seperti untuk berbagi informasi, cerita, dan pengalaman. Maka yang kita berikan itu, akan mengena ke hati para pembaca.
![]() |
| (c) djournalin.blogspot.com |
Coba sekarang, kamu bedakan karya sastra yang dibuat para novelis terkenal. Banyak kan karya-karya mereka yang menjadi novel best seller? Bahkan karya novelnya dijadikan film layar lebar?
Hal itu tak lain karena "niat", "hati" dan "emosi" sang penulis dalam mendeskripsikan cerita, tokoh dan lainnya kedalam sebuah tulisan.
Sebuah Novel, memiliki proses yang panjang. Mulai dari membuat kerangka karangan, melakukan riset, editing hingga masuk ke penerbit.
Proses pembuatannya tidak bisa instan, bahkan memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk menyelesaikannya.
**
Saat ini, AI memang bisa membuat tulisan dengan cepat. Namun untuk menjadi sebuah karya seni seperti karya sastra. Tetap butuh hati, emosi dan sentuhan manusia.
Peran AI bisa kita gunakan sebagai editor. AI dapat kita gunakan untuk menyunting naskah, memperbaiki kesalahan seperti typo, struktur kalimat yang kurang tepat atau lainnya tanpa mengubah isi dan esensi dari tulisan kita.
Saat ini, sulit jika kita menolak keberadaan AI. Jadikanlah AI itu partner, yang mempermudah pekerjaan kita. Sebagai penulis, kita juga sedang membantu AI mengumpulkan informasi-informasi yang up to date agar mereka lebih pintar.
Jika tidak ada informasi atau tulisan yang dibuat oleh manusia. Maka AI tidak bisa menjadi seperti sekarang.
***
Menulis itu sebenarnya gampang
Sadar gak? Menulis itu sudah kita lakukan sejak Sekolah Dasar.
Misalnya pada kelas 3SD anak 90-an seperti saya disuruh membuat krangan oleh guru di kertas folio. Bahkan saat ujian Bahasa Indonesia, ada soal terakhir berupa gambar ilustrasi dan lembar folio yang harus kita tulis.
Menulis bagi saya bisa mudah, karena dari kecil saya terbiasa membaca buku cerita seperti majalah Bobo atau Donald Bebek, novel Goose Bumb, Komik Doraemon, dan lain sebagainya. Sehingga tanpa sadar, saya memiliki banyak kosakata baru.
Kebiasaan membaca saya makin tumbuh, ketika saya beranjak Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Saat itu, Perpustakaan SMP saya memiliki sumber bacaan populer seperti komik, majalah, dan novel yang cukup lengkap. Untuk majalah selalu ada yang baru setiap minggu seperti majalah GADIS, Aneka Yess, Hai, Kawanku hingga majalah hewan-hewan dan handphone.
Hal yang bikin saya suka membaca buku disana, karena Perpustakaannya dilengkapi dengan pendingin udara yang cukup sejuk. Suasananya yang bersih, apik dan nyaman.
Saat SMA, sekolah saya memang tidak memiliki perpustakaan sebagus dan sebesar di SMP. Tapi untungnya, tak jauh dari Sekolah. Terdapat Perpustakaan Daerah (Perpumda DKI) atau kami biasa menyebutnya dengan Perpustakaan Kuningan, yang berlokasi di Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta Selatan.
Di Perpumda DKI, banyak buku-buku dan bahan tugas yang cukup lengkap. Bahkan setelah lulus SMA saya masih mengunjungi perpustakaan tersebut untuk mencari bahan tugas kuliah, ataupun sumber bacaan hingga saya menjadi First Jobber.
Menariknya, Di Perpumda DKI, banyak majalah-majalah yang di bundling dari beberapa edisi. Jadi jika tidak lagi ingin membaca buku, saya bisa membaca dan melihat-lihat majalah dari berbagai merek dan edisi .
Di Perpumda ada ruangan khusus yaitu KCKR (koleksi Karya Cetak dan Karya Rekam). Namun buku-buku koleksi KCKR tidak boleh dibawa pulang alias harus baca di tempat.
Saat mengunjungi perpustaakan, saya sering meminjam dua buku sekaligus ketika berkunjung. Dengan total durasi peminjaman sekitar dua minggu. Jadi target saya waktu itu, saya harus membaca satu buku satu minggu, atau paling tidak, sapai masa batas pengembalian yang tertera pada cap dibelakang buku.
Selama saya SMA hingga First Jobber. Saya lebih suka meminjam buku-buku non-fiksi. Hal itulah yang membuat saya lebih senang menulis karya tulis ataupun karya non fiksi di blog hingga media online.
Alasan lainnya, saya sudah banyak buku-buku novel dan komik di rumah. Jadi saya harus pinjam genre lain seperti buku biografi, buku pengembangan diri, sampai saya pernah meminjam buku obat-obatan dari buah dan tumbuhan.
Membaca buku non fiksi, banyak membantu saya dalam perjalanan menulis dari blogger hingga menjadi menjadi penulis dan content marketing (advetorial) di media online, bahkan menulis inspirasi bisnis di website Prioritas BCA.
Hingga saat ini, kegiatan menulis tidak pernah saya tinggalkan. Namun, saya hanya perlu waktu untuk diam dan bengong sejenak di depan laptop atau tablet untuk bisa menulis secara mengalir.
Kondisi saat menulis saya harus fokus, tanpa ada distraksi dari lingkungan sekitar. Atau paling tidak saya harus ke coffee shop atau cafe, karena walaupun ramai disana tidak ada orang yang saya kenal.
Menulis membantu saya lebih fokus, lebih berkonsentrasi dan melatih rasa. Misalnya ketika menulis sebuah tulisan.Pasti saya akan mengulang kembali membacanya dari awal. Jangan sampai tulisan yang saya tulis sulit dimengerti atau dipahami.
Menulis melatih rasa kita untuk mencari tahu, melatih rasa kita akan penasaran, penasaran untuk mencari sebuah jawaban. Kemudian menuliskannya dengan mudah kedalam sebuah tulisan.
Yang saya suka dari menulis:
"Selain bisa menjadi inspirasi orang lain. Menulis menjadi stress realese yang ampuh bagi saya. Menulis melatih kesadaran saya, dari hingar bingar dunia yang semakin bising di era digital."

0 Komentar:
Posting Komentar