Orang Super Kaya dan Tas Birkin, Apa Bikin Video Unboxing?

Seberapa banyak hari ini content video reels di Instagram dan Tiktok yang memamerkan kekayaan dan kemewahan? Rasanya sudah tidak terhitung lagi. 

Mulai dari pebisnis skincare, obat pelangsing, trader, penjual bunga, sampai yang tidak menjual produk apa-apa tapi pure menjadi content creator atau influencer.

Jika kita telaah, fenomena ini di Indonesia sudah ada jauh sebelum booming instagram menjadi tempat flexing.

Sebut saja artis Angel Lelga dan Syahrini yang memamerkan koleksi tas Hermes di sebuah tayangan infotainment sekitar era 2010-2012.

Kala itu, Angel Lelga dan Syahrini memiliki tas Hermes Himalaya yang dibandrol dengan harga milyaran rupiah. Sontak membuat kagum para pemirsa yang menonton dari layar kaca. 

Bagaimana tidak? Tas dari kulit buaya tersebut, tidak sembarang orang bisa memilikinya. Bukan hanya karena harganya yang super fantastis, tetapi ada waktu tunggu dan undangan langsung dari Hermes untuk memilkinya.

Bila kamu belum pernah memiliki hubungan dengan Hermes sebelumnya. Belum pernah memiliki history pembelian barang-barang "remeh-temeh" mereka. Seperti gelas, piring, aksesoris, baju dan lainnya. Jangan harap, kamu bisa membeli tas-tas mereka dengan mudah. 

Ada banyak sekali daftar antrian dark para sosialita yang ingin memiliki Birkin dan Kelly. Kedua tipe tas Hermes yang selalu sold out, karena memiliki warna-warna dan bentuk yang classic. Sangat cocok di padu padankan dengan busana apapun.

Sekarang flexing di media sosial sudah merajalela. Bahkan semuanya sudah terasa lumrah. Ketika melihat kelakuan para selebgram dengan hidup mewah yang gampang mendapatkan uang. Membuat kita tertawa.

Tertawa pada diri sendiri yang mungkin terlalu miskin karena tidak bisa mengikuti standar hidup mereka.

Template dari orang-orang kaya seperti mereka, selalu bercerita tentang susahnya hidup mereka di masa lalu. Berawal dari konten, endorse, kemudian berbisnis, dan menjadi artis. 

Rasanya easy sekali hidup mereka, menghasilkan uang banyak dengan cepat bahkan hanya shooting dari rumah ala kadarnya. Sebenarnya ada hal-hal di balik layar yang tidak pernah di sorot oleh kamera.

Strugle mereka ketika memulai,  mencapai titik tersebut, mereka juga harus membayar harga. Seperti bekerja tidak mengenal waktu, bahkan tak mengenal hari libur. Sebab mereka sendiri yang mengatur jadwal dan jam kerjanya.

Memiliki penghasilan yang tak menentu setiap bulan, bagi influencer membuat mereka harus lebih ekstra, memutar cara agar bisa menghasilkan uang lebih banyak. Bagi influencer yang sudah cukup terkenal, biasanya memiliki bisnis diluar influencer.

Namun dalam berbisnis, tidak semua bisnis 100% dimiliki oleh influencer. Kadang ada perusahaan yang menawarkan skema kerjasama. Dengan presentase sekian persen tergantung kesepakatan.

Kemudian para pebisnis memanfaatkan nama influencer, untuk menjadikannya co-founder, brand ambassador, atau komisaris di perusahaannya. Sebab ketika influencer besar yang berada di depan, sebuah bisnis akan lebih ter-highlight dan di notice oleh masyarakat.

Untuk flexing sendiri, sebenarnya  menjadi taktik marketing yang mudah dan efektif bagi masyarakat kelas menengah. 

Namun, flexing kekayaan dengan gimmick  berlebiha inilah yang menjadi masalah. Terkadang demi mengejar viralitas, mereka sampai menipu dan merugikan 

Netizen Indonesia, tak segan-segan mencari-cari kesalahan para influencer atau selebgram sampai celah yang terkecil. Keahlian netizen sebagai detektif inilah yang sering menguliti gimmick-gimmick yang tidak sesuai kenyataan.

Kesalahan para penggiat internet dan sosial media saat ini, terlalu banyak brain wash mengenai personal branding. Tidak salah memiliki personal branding, tapi dalam personal branding kita tidak boleh berpura-pura atau dipaksakan.

Memang personal branding ada yang bisa dibentuk atau dibuat, tapi disitu harus ada ke-aslian. Misalnya kamu lebih suka sepak bola, tidak mungkin bisa di pura-purain suka menari balet. Mau gimanapun jiwanya tidak sesuai.

***

Armand Hartono (c) djournalin

Saat ini, orang yang benar-benar kaya apakah masih sibuk membuat content personal branding di media sosial? Membuat content unboxing tas Hermes hadiah ulang tahun yang di dapatkannya?

Sebut saja Armand Hartono dari grup BCA, Nurhayati Subakat dari grup Paragon (Wardah). Mereka yang kaya beneran biasanya tenang-tenang saja dan  tidak berisik di media sosial.

Bagi orang super kaya, memamerkan kekayaan dan hidup mewah rasanya malu. Apalagi kalau ujung-ujungnya membuka kelas atau membership untuk mentoring bisnis. 

Orang super kaya, biasanya sudah sibuk dengan kerajaan bisnisnya. Mereka tidak memiliki waktu dan energi untuk mengurusi bisnis orang lain apalagi buka konsultasi satu-satu.

Logikanya, energi mereka lebih baik digunakan untuk memikirkan hal yang lebih besar gak sih? Ketimbang memikirkan bisnis orang lain yang baru mulai. Orang yang super kaya tidak butuh uang receh dari jualan kelas.

Jika pun ada orang super kaya yang membuat kelas, biasanya itu adalah kelas profesional untuk kalangan tertentu. Bisa untuk karyawannya, untuk anak perusahaannya, atau alumni dari sekolah atau kampusnya. Itupun, mereka tidak bersifat komersial.


0 Komentar:

Posting Komentar

Ruang ekspresi dan free writing tanpa batas algoritma. Membaca kehidupan lewat kata, emosi, dan kejujuran.